Hari ini matahari terasa terik, jauh aku melangkah, jengkal
demi jengkal sepasang kaki ini menyusuri arah pelabuhan golden horn. Cucuran
keringat tampak deras, sederas selat bosporus dan laut marmara yang berada di
depanku. Libur kuliah musim panas kali ini aku menjelajah salah satu kota di
turki dan meninggalkan University of Bologna, Italia. Membutuhkan 5 jam perjalanan dari Italia ke Turki. Sesampainya di Turki nampak aroma
pertumpahan darah perang salib para ksatria Muslim telah merasuk imajinasi. Sebut
saja Istanbul namun dulu lebih dikenal dengan Konstantinopel, kota primadona
dari negara Turki menjadi salah satu kota tersibuk di dunia. Dulu kota ini
dikuasai oleh kedigdayaan kerajaan romawi. Kota ini sungguh menawan bagi
wisatawan khususnya kaum Muslim, bukan saja karena keindahan kota dan alamnya
tapi juga karena sejarahnya. Sekali lagi, aku tak henti-hentinya mengagumi
setiap sudut kota ini sampai aku tak
sadar kalau temanku sudah jauh melangkah didepan mata.
“ Woy, Sinar cepat!”, Seru
temanku Gatra yang memintaku untuk berjalan lebih cepat.
Aku segera bergegas mengejar gatra, karena aku dan gatra
akan menuju halte bus antar kota yang akan membawa kami ke museum topkapi,
sebuah bangunan sekaligus saksi bisu penaklukan konstantinopel yang dipimpin
oleh sebaik-baik pemimpin yaitu Muhammad Al-Fatih. Setelah 15 menit aku dan
gatra menunggu di halte, tibalah bus itu datang aku dan gatra menuju istana
topkapi yang dulu pernah diceritakan oleh Ustad Hasan guru ngajiku saat aku
duduk dibangku SMA. Dalam perjalanan aku mendadak teringat ketika aku sedikit
bercanda sambil mengatakan kepada Ustad Hasan kalau suatu saat nanti aku akan
ke Istanbul, aku akan menyaksikan tembok-tembok romawi yang berhasil ditaklukan
sultan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih) dalam merebut kota emas ini. Benar saja
ucapan adalah sebuah doa yang kapan saja bisa jadi nyata. Aku sangat terkesan
dengan ke-Agungan Tuhan yang membawaku pada realita, benar juga adanya Law Of Attraction (Hukum tarik menarik).
Apa yang kita pikirkan dan apa yang kita katakan adalah magnet dari semesta.
Hmm, aku terkesima akan hal itu. Dan tiba-tiba.
“Plak! elu kemasukan setan turki
ya senyum-senyum sendiri gak jelas?”, celetuk Gatra sambil memukul bahuku
dengan buku filsafat aristoteles kesayangannya itu.
“ Santai sedikit bisa kali boy !”,
Jawabku ketus dan sedikit kaget.
“ Abis lu kaya orang sinting sih
senyum-senyum gak karuan. Atau jangan-jangan lagi jatuh cinta ya? Jatuh cinta
sama siapa lu nar? Cerita dong sama gue.”, tanya Gatra dengan penasaran.
“Jatuh cinta palelu peyang! gue cuma
lagi mengagumi keajaiban aja, Ga. Dulu gue itu pernah berkata ke Ustad Hasan
guru ngaji gue waktu SMA kalau gue suatu saat akan pergi ke Istanbul akan
mengunjungi monumen paling bersejarah disana, dan jujur secara tidak sadar
Tuhan menuntunku sampai ke kota ini.”, Serius jawabku.
“Wuiih bukan main, keren juga nih
bocah kayak cerita-cerita di novel gitu tau gak sih lo. Tapi gue percaya kok
adanya keajaiban dan keberuntungan. Dan gue adalah orang yang percaya kalau
keajaiban dan keberuntungan itu diciptakan nar, bukan ditunggu. Mungkin Tuhan
menyimpan rahasia besar itu pada selembar brosur beasiswa luar negeri yang elu
pungut di tong sampah itu. Dan elu sendiri yang menciptakan keajaiban besar itu
men. Biasanya Tuhan itu memberikan petunjuk melalui hal-hal yang kecil, selebihnya
bagaimana kepekaan kita terhadap hal-hal kecil itu dan menjadikannya sesuatu
yang besar, dan elu adalah orang yang paling beruntung masih bisa peka dengan
brosur tong sampah yang menurut orang lain gak berguna itu.”, Pungkasnya sambil
menatap tajam.
“ Cerdas juga lu ya, gak sia-sia
belajar filsafat tiap hari.”, Sahutku dengan sedikit mengejek.
Tak lama setelah itu aku terkesima, di depan sana berdiri
tembok megah, berwibawa, berkharisma semakin jelas, semakin dekat dan semakin
aku rasakan bagaimana meriam-meriam Khalifah meruntuhkan kedigdayaannya tepat
persis didepan mataku. Bus berhenti dihadapan pintu gerbang utama topkapi,
benteng utama yang menjadi garda terdepan meladeni serangan Sultan Mehmed II.
Aku segera turun dan berkata kepada Gatra dengan emosi yang meledak-ledak.
“Kamu
lihat itu bung?! Persis di depan mataku, ya didepan mataku, yang pernah Ustad
Hasan ceritakan. Tembok konstantinopel yang begitu megah dan berwibawa itu kini
hanya beberapa jengkal dihadapanku. Rasanya aku seperti menantang kaisar romawi
keparat itu!. Dan coba lihat pintu gerbang itu, pintu dimana kaum romawi
menyerahkan kunci istana congkak itu kepada Khalifah Mehmed II usai perang
salib. Dan sekarang, konstantinopel telah kembali kepangkuan umat Muslim
seperti yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, konstantinopel menjadi kota yang
besar dan maju dengan segala mobilitasnya. Aku akan menceritakan ini semua
kepada Ustad Hasan ketika aku pulang nanti”.
Semua yang aku lihat dikota ini adalah kekaguman. Dari alam
hingga sudut keramaian kota tapi alasan terkuat kenapa aku begitu mengagumi
kota ini adalah karena kota ini adalah titik balik dimana Islam bangkit
merengkuh dan meruntuhkan dominasi kerajaan Romawi yang berkuasa beberapa abad.
Dan konon hari Natal pertama diadakan di kota ini. Konstantinopel punya sejarah
menarik yang perlu ditelisik. Inilah sebuah miracle
way yang pernah aku rasakan.
Dengan
sedikit tenang sambil memandang padang rumput dalam istana aku berkata kepada
Gatra “ Istana ini indah dan gagah berani bukan? Tapi dulu ia congkak.”, “This
is ISTANBUL, KONSTANTINOPEL!”.