Rabu, 22 Februari 2017

FICTION OF CONSTANTINOPLE

Hari ini matahari terasa terik, jauh aku melangkah, jengkal demi jengkal sepasang kaki ini menyusuri arah pelabuhan golden horn. Cucuran keringat tampak deras, sederas selat bosporus dan laut marmara yang berada di depanku. Libur kuliah musim panas kali ini aku menjelajah salah satu kota di turki dan meninggalkan University of Bologna, Italia. Membutuhkan 5 jam perjalanan dari Italia ke Turki. Sesampainya di Turki nampak aroma pertumpahan darah perang salib para ksatria Muslim telah merasuk imajinasi. Sebut saja Istanbul namun dulu lebih dikenal dengan Konstantinopel, kota primadona dari negara Turki menjadi salah satu kota tersibuk di dunia. Dulu kota ini dikuasai oleh kedigdayaan kerajaan romawi. Kota ini sungguh menawan bagi wisatawan khususnya kaum Muslim, bukan saja karena keindahan kota dan alamnya tapi juga karena sejarahnya. Sekali lagi, aku tak henti-hentinya mengagumi setiap sudut kota ini  sampai aku tak sadar kalau temanku sudah jauh melangkah didepan mata.
“ Woy, Sinar cepat!”, Seru temanku Gatra yang memintaku untuk berjalan lebih cepat.
Aku segera bergegas mengejar gatra, karena aku dan gatra akan menuju halte bus antar kota yang akan membawa kami ke museum topkapi, sebuah bangunan sekaligus saksi bisu penaklukan konstantinopel yang dipimpin oleh sebaik-baik pemimpin yaitu Muhammad Al-Fatih. Setelah 15 menit aku dan gatra menunggu di halte, tibalah bus itu datang aku dan gatra menuju istana topkapi yang dulu pernah diceritakan oleh Ustad Hasan guru ngajiku saat aku duduk dibangku SMA. Dalam perjalanan aku mendadak teringat ketika aku sedikit bercanda sambil mengatakan kepada Ustad Hasan kalau suatu saat nanti aku akan ke Istanbul, aku akan menyaksikan tembok-tembok romawi yang berhasil ditaklukan sultan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih) dalam merebut kota emas ini. Benar saja ucapan adalah sebuah doa yang kapan saja bisa jadi nyata. Aku sangat terkesan dengan ke-Agungan Tuhan yang membawaku pada realita, benar juga adanya Law Of Attraction (Hukum tarik menarik). Apa yang kita pikirkan dan apa yang kita katakan adalah magnet dari semesta. Hmm, aku terkesima akan hal itu. Dan tiba-tiba.
“Plak! elu kemasukan setan turki ya senyum-senyum sendiri gak jelas?”, celetuk Gatra sambil memukul bahuku dengan buku filsafat aristoteles kesayangannya itu.
“ Santai sedikit bisa kali boy !”, Jawabku ketus dan sedikit kaget.
“ Abis lu kaya orang sinting sih senyum-senyum gak karuan. Atau jangan-jangan lagi jatuh cinta ya? Jatuh cinta sama siapa lu nar? Cerita dong sama gue.”, tanya Gatra dengan penasaran.
“Jatuh cinta palelu peyang! gue cuma lagi mengagumi keajaiban aja, Ga. Dulu gue itu pernah berkata ke Ustad Hasan guru ngaji gue waktu SMA kalau gue suatu saat akan pergi ke Istanbul akan mengunjungi monumen paling bersejarah disana, dan jujur secara tidak sadar Tuhan menuntunku sampai ke kota ini.”, Serius jawabku.
“Wuiih bukan main, keren juga nih bocah kayak cerita-cerita di novel gitu tau gak sih lo. Tapi gue percaya kok adanya keajaiban dan keberuntungan. Dan gue adalah orang yang percaya kalau keajaiban dan keberuntungan itu diciptakan nar, bukan ditunggu. Mungkin Tuhan menyimpan rahasia besar itu pada selembar brosur beasiswa luar negeri yang elu pungut di tong sampah itu. Dan elu sendiri yang menciptakan keajaiban besar itu men. Biasanya Tuhan itu memberikan petunjuk melalui hal-hal yang kecil, selebihnya bagaimana kepekaan kita terhadap hal-hal kecil itu dan menjadikannya sesuatu yang besar, dan elu adalah orang yang paling beruntung masih bisa peka dengan brosur tong sampah yang menurut orang lain gak berguna itu.”, Pungkasnya sambil menatap tajam.
“ Cerdas juga lu ya, gak sia-sia belajar filsafat tiap hari.”, Sahutku dengan sedikit mengejek.
Tak lama setelah itu aku terkesima, di depan sana berdiri tembok megah, berwibawa, berkharisma semakin jelas, semakin dekat dan semakin aku rasakan bagaimana meriam-meriam Khalifah meruntuhkan kedigdayaannya tepat persis didepan mataku. Bus berhenti dihadapan pintu gerbang utama topkapi, benteng utama yang menjadi garda terdepan meladeni serangan Sultan Mehmed II. Aku segera turun dan berkata kepada Gatra dengan emosi yang meledak-ledak.
                “Kamu lihat itu bung?! Persis di depan mataku, ya didepan mataku, yang pernah Ustad Hasan ceritakan. Tembok konstantinopel yang begitu megah dan berwibawa itu kini hanya beberapa jengkal dihadapanku. Rasanya aku seperti menantang kaisar romawi keparat itu!. Dan coba lihat pintu gerbang itu, pintu dimana kaum romawi menyerahkan kunci istana congkak itu kepada Khalifah Mehmed II usai perang salib. Dan sekarang, konstantinopel telah kembali kepangkuan umat Muslim seperti yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, konstantinopel menjadi kota yang besar dan maju dengan segala mobilitasnya. Aku akan menceritakan ini semua kepada Ustad Hasan ketika aku pulang nanti”.
Semua yang aku lihat dikota ini adalah kekaguman. Dari alam hingga sudut keramaian kota tapi alasan terkuat kenapa aku begitu mengagumi kota ini adalah karena kota ini adalah titik balik dimana Islam bangkit merengkuh dan meruntuhkan dominasi kerajaan Romawi yang berkuasa beberapa abad. Dan konon hari Natal pertama diadakan di kota ini. Konstantinopel punya sejarah menarik yang perlu ditelisik. Inilah sebuah miracle way yang pernah aku rasakan.

                Dengan sedikit tenang sambil memandang padang rumput dalam istana aku berkata kepada Gatra “ Istana ini indah dan gagah berani bukan? Tapi dulu ia congkak.”, “This is ISTANBUL, KONSTANTINOPEL!”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar