Aku terjebak dalam trilogi kehidupan
Dalam bab pertama aku menapaki lorong cinta
Buaian dan kelembutan jemari ku terpangku wanita tangguh
Kejenakaanku menjadi kobaran semangatnya
Ibu aku sebutnya
Aku membuatnya tersenyum hanya ketika ku terlelap
Seakan ibu melihat aku terlentang diatas tumpukan gemintang
Benar bu! Aku memang berada ditumpukan gemintang
Diatas alam raya aku jua menatapmu dengan cinta
Maafkan aku yang tak bisa bicara, aku hanya bisa membalas
Maha Kasihmu dengan tangisan
Aku ingin ibu mengajarkan ku bicara “Aku cinta ibu”
Agar kata yang pertama aku ucap dalam hidup adalah kata cinta
untukmu
Maafkan daku, trilogi pertama ini aku merepotkanmu
Lalu pada bab ke dua aku menapaki lorong kebencian,
kemurkaan, kegusaran
Sekarang aku mulai melabeli diriku adalah sang petualang
Petualangan hidup yang penuh dengan kemurkaan
Petualangan hidup yang penuh dengan kebencian
Aku sering kali gusar, rasa cinta tertutup lekat menjadi
kerak
Hingga membentukku menjadi seorang pembenci
Tak jarang sosok yang penuh cinta itu menjadi sasaran
kemurkaan
Maafkan daku, trilogi kedua aku merepotkanmu lagi
Dan pada bab ke tiga aku kembali bertemu lorong cinta
Cinta itu bersemi lagi tatkala aku melihatnya tak seperti
dulu
Kini cinta sejatiku tampak senja
Kulit kering dan mengeriput adalah bekas perasan keringatnya
Mata yang sayu adalah bekas tangisnya
Lagi dan lagi hanya kata maaf kembali ku ucap
Tetesan keringatku yang membentang samudera pun rasanya
takan mampu menandingi setetes keringatnya
Engkau adalah pecinta tanpa pamrih diantara pamrih lainnya
Engkau adalah pecinta yang tulus diantara tulus lainnya
Dan engkau adalah cinta sejati tak terperi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar